BAGIKAN

Keikutsertaan mahasiswa Indonesia dalam Shell Eco-Marathon Asia (SEMA) 2015 patut diacungi jempol, setelah Tim ITS 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Indonesia berhasil mencatat rekor jarak tempuh terjauh yaitu 152.7km/l dalam kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel. Sedangkan, Tim Batavia Generation dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mendapatkan peringkat ke-3 untuk kategori Prototype Shell FuelSave Gasoline, dengan jarak tempuh 485.4km/l, atau setara dengan jarak dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, tim mahasiswa Indonesia unggul dalam kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel dengan meraih peringkat 1, 2, dan 3. Peringkat ke-2 kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel adalah tim Cikal Diesel dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil menempuh jarak 136.9km/l, dan peringkat ke-3 diraih oleh Tim Bengawan 2 dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan rekor jarak tempuh 99.2km/l.

Sementara itu pada kategori UrbanConcept Shell FuelSave alternative fuel, penghargaan diraih oleh dua tim Indonesia yakni Tim Horas Mesin Universitas Sumatra Utara (USU) dengan kendaraan berbahan etanol yang berhasil menjadi juara ke-2 dengan rekor jarak tempuh 134.7km/l; dan Tim IST Akprind 1 dari Institut Sains & Teknologi AKPRIND pada peringkat ke-3 dengan mengusung kendaraan berbahan bakar etanol yang mencapai jarak tempuh 89km/l.

Pemenang tahun ini berhasil mengalahkan lebih dari 120 tim mahasiswa dari 17 negara di Asia dan Timur Tengah – termasuk tim mahasiswa baru dari Australia, Bangladesh, Oman dan Arab Saudi. Sedangkan Indonesia sendiri menurunkan 23 tim yang diwakili oleh Tim Batavia Diesel dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengusung kendaraan berbahan bakar diesel dalam kategori Urban Concept, Tim Horas Mesin dari Universitas Sumatera Utara (USU) dengan bahan bakar ethanol dalam kategori Urban Concept dan Tim SapuAngin dari Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan bahan bakar diesel dalam kategori Prototype.

Para tim peserta mengusung kendaraan dalam salah satu kategori Urban Concept atau Prototype dengan salah satu dari tujuh jenis energi yang berbeda. Hasil akhir diukur dari tim mana yang dapat menempuh jarak terjauh dengan menggunakan bahan bakar setara dengan 1 kWh listrik, 1 m3 hidrogen atau 1 liter bahan bakar.

“Saya bangga melihat lebih banyak tim dan lebih banyak negara bergabung dengan keluarga Shell Eco-marathon tahun ini. Hal tersebut sangat mengesankan melihat anggota baru yang baru berpartisipasi dari negara-negara seperti Australia, Arab Saudi, Oman dan Bangladesh yang telah berusaha dan mencatat hasil di tahun pertama mereka. Saya berharap untuk menyambut lebih banyak pendatang baru di edisi berikutnya, “kata Norman Koch, Shell Eco-marathon Technical Director.

Sedangkan Rizaldy Hakim Ash Shiddieqy, Tim Manager ITS Team 2 yang sekaligus merupakan juara bertahan SEM Asia sejak 2011 mengatakan, “Prestasi ini berkat kerja tim bareng yang solid, dukungan dari para dosen kami yang memberikan motivasi terus menerus dan bimbingan. Tantangan kami di ajang SEM kali ini lebih kepada lintasan.Tahun lalu lintasan aspal semua arat dan sekarang ini terdapat paving garis dan mobil harus stabil untuk mengejar efisiensi bahan bakar. Kami mau mengembangkan lagi Sapu Angin Diesel ini karena target kami adalah 300 km/liter.”

Shell Eco-marathon digelar untuk menginspirasi generasi muda dalam menciptakan solusi untuk masa depan. Inovasi ini akan membantu kita melihat mobilitas cerdas, dan mengeksplorasi bahan bakar jenis baru yang dapat lebih berkelanjutan.  (Irianto)

LEAVE A REPLY