BAGIKAN
Revenge Auto Club

Modifikasiplus.com – Beberapa bulan lalu, tepatnya di awal bulan Mei, Modifikasi Plus menerima undangan dari salah satu Ko­munitas terbesar di Surabaya untuk diekspose keberadaannya dan eksistensinya, Revenge Auto Club. Kami me­nyambut baik undangan tersebut. Perjalanan yang cukup jauh itu tidak menjadi kendala bagi Modifikasi Plus, tetapi di benak penulis sendiri ada sesuatu yang berbeda dari mereka dibandingkan dengan komunitas yang pernah kami angkat sebelumnya. Dan benar, satu jam dua puluh menit penerbangan kami menuju kota pahlawan disambut baik oleh arek-arek Suroboyo yang tergabung dengan nama Revenge. Usia mereka masih belia, rata-rata umur mereka masih 20’an yang memang jati diri seorang yang beranjak dewasa. Broth­erhood yang terjalin dengan solid dan tentu saja mereka penghobi modifikasi kelas berat. Sungguh kami Happy dengan mereka.

Revenge diartikan dalam bahasa berarti Dendam. But, tidak ada konotasi negatif dari kata Revenge itu. Tidak ada den­dam diantara mereka, hanya ada kebersamaan para pecinta mobil dan modifikasi menjadi tiang pancangnya. Yaa, Arek-arek Suroboyo ini sangat freak dengan dunia otomotif sehingga nama Revenge sudah dikenal dikalangan komunitas dan para pemuja mobil-mobil mod­ifikasi Surabaya. “Revenge mempunyai misinya untuk jadi komunitas otomotif terbesar di Indonesia. Untuk saat ini, Revenge sudah ada di Ibu kota Jakarta, Surabaya dan Bali. Target tahun ini kami akan menambah chapter di kota Solo dan jogja,” bilang Ricardo Yoz, salah satu anggota Revenge dengan logat Surabaya yang kental itu.

Revenge yang dapat diuraikan sebagai Reborn to Vengeance terjemahan dalam bahasa berarti lahir kembali untuk pembalasan merupakan kesepakatan lima orang pendiri Re­venge itu sendiri. Tanggal penetapan Revenge 27 juli 2010 yang terdiri dari anak-anak SMA Gloria, Simanunggal yang hobi kongkow dan membawa tunggangannya masing-masing. Dari sanalah bibit Revenge lahir dan hingga saat ini sudah lebih dari 100 anggota di 3 kota besar Indonesia. ”Awalnya sih kita pelajar SMA yang hobi modifikasi namun seiring berjalannya waktu kita menjadi komunitas mobil yang menjadi­kan modifikasi mobil sebagai sebuah seni,” terang Heinrich Tungki salah satu penggagas dan ketua Revenge.

Empat tahun usia Revenge, kede­wasaan di masing-ma­sing anggota sudah terlihat saat Modifikasi Plus mewawanca­rai perwakilan mereka. Bukan lagi anak-anak sekelas SMA yang doyan kongkow. Eksistensi mereka dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang positif area. Kegemaran seluruh krew Revenge memodifikasi tunggangan dibuktikan dengan keikutsertaan mereka dalam ajang modifikasi di bebagai kota besar. Dan tentu berderet piala-piala membuktikan Revenge berjalan ke arah kanan (baca: Benar / positif). “Yang membuat Revenge berbeda karena kita mempunyai seluruh konsep aliran modifikasi dalam satu komunitas seperti, racing, retro, elegant, ekstreme, semua aliran modifikasi masuk ke dalam Revenge, namun yang pasti harus terkonsep dan kami merang­kul semua aliran modifikasi itu. Selain dalam hal kontes modifikasi kami juga mempunyai difisi balap yang kami namai Revenge racing team atau defisi yang berisi tunggangan Eropean car, premium car dan luxury car yang disebut High Society,” tambah Ricardo yang BMW F30-nya terpampang di majalah edisi khusus lalu.

Kebersamaan Revenge tidak hanya bersifat resmi di dalam kontes maupun arena balap. Anggota Revenge menyatakan bahwa komu­nitas yang mereka naungi merupakan keluarga kedua bagi mereka. Selain menyinggung masalah tunggangan, masalah sekolah, pe­kerjaan dan bahkan percintaan mereka untuk satu sama lain. Dan yang terpenting, socialty of interence alias baksos tidak dilupakan mereka. “Kegiatan baksos terus kami galangkan dengan membantu sesama menjadi agenda rutin Re­vange,” ucap Ricardo lagi. Menjaga kebugaran juga menjadi kegiatan rutin setiap minggu­nya, futsal dan badminton menjadi pengikat rasa kekeluargaan diantara teman-teman Revange. “Jadi kita tak hanya komunitas mobil yang doyan kongkow. Revenge juga ingin membina hubungan silahturahmi antar sesama modifikasi, semoga rencana gathering bareng seluruh komunitas di Surabaya bisa terlaksana tahun ini,” lanjut Heinrich Tungki dan Ricardo.

LEAVE A REPLY