BAGIKAN
Industri Aftermarket Dikuasai Asing

Industri Aftermarket Dikuasai Asing – Merosotnya pasar otomotif Indonesia sepanjang 2015, tak jadi halangan bagi para investor untuk terus mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Hal ini terbukti bahwa semakin banyaknya pembangunan industri kendaraan di Tanah Air, mulai dari pabrikan China, Korea atau Jepang yang terus meluaskan kapasitas dan fasilitas pabriknya.

Fenomena tersebut tentu berdampak pada industri komponen pendukung otomotif, karena membutuhkan ragam suplai untuk memproduksi utuh sebuah kendaraan. Oleh karenanya diharapkan Indonesia semakin menguatkan pada industri komponen dan aksesori otomotif aftermarket.

Kondisi tersebut harus terus dirangsang agar terus bergairah, salah satunya dengan kehadiran pameran IIBT dan Inapa yang akan segera berlangsunh pada 29 Maret – 1 April 2016  nanti, sehingga pada akhirnya akan semakin banyak investor yang tertarik, turut memajukan industri otomotif secara keseluruhan.

Kesemuanya itu akan tersaji dalam satu rangkaian acara pameran yang bertujuan untuk mempertemukan peserta dan pengunjung pameran dari kalangan profesional baik dari lokal maupun internasional untuk meciptakan lebih banyak kesempatan bisnis dan memperluas pasar. Apalagi Indonesia sebagai salah satu sasaran pasar potensial dunia untuk industri otomotif dan sebagainya

Ketua Umum Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) Sommy Lumadjeng menyebut, pameran ini lebih berkonsentrasi pada komponen dan aftermarket. Namun ironisnya, pemain industri lokal pesimis untuk ikut serta di ajang ini. Jika dipersentasikan, pemain industri asing dengan industri lokal berbanding jauh, komposisinya 80 – 20 persen.

“Kami berharap justru sebaliknya yaitu 80 persen untuk lokal dan 20 persen asing, tapi karena kebanyakan mereka terlena dengan pasar OEM dan tidak mau berkecimpung di pasar aftermarket, padahal disini adalah tempat untuk berkompetisi. Mengingat OEM sedang lesu, sehingga masuklah after market dan tentunya hal ini jauh lebih besar dari OEM,” tegas Sommy.

Menurut Sommy, mereka seolah malu-malu untuk dapat memamerkan diridanberani tampil. Bahkan dinilai masih belum jadi superior atau kurang pede. “Mungkin bisa dibilang kita ini ‘jago kandang’. Kita berharap industri lokal mampu bersaing dengan industri asing. Sebetulnya dari sisi financial mereka mampu tapi ‘pede’nya kurang,” tuntasnya. (Alan)

LEAVE A REPLY